Selasa, 25 Agustus 2015

Edisi Kering-kering(an) - Bali #day2


01 Juni 2015

Masih dari Pulau Dewata, hari kedua kami di Hotel Suranadi II. Hari ini temanya kering-keringan aja, gapapalah...yang penting renyah #opotohiki?. Dari hasil meeting singkat di kamar hotel, tercetuslah ide untuk berkunjung ke desa Adat Penglipuran – Bali. Dari otak ke mulut saya kok agak beribet ya ngomong desa Penglipuran, malah bisa-bisa ga sengaja bilang “Desa Pelipur Lara”, jadi...kalo kita berkunjung ke desa itu hati kita yang gundah gulana bakal jadi riang gembira tak terkira. Kok berasa galau banget ya? Ya sudah saya sebut ke nama asalnya aja “Desa Penglipuran”.

Desa Penglipuran



Desa Wisata Adat Penglipuran ini terletak di kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, tidak begitu jauh dari Pusat kota Denpasar, sekitar 47,5 Km atau 1 Jam lebih 20 menit (Bila tidak macet dan tak ada lampu merah :p). Tiket masuknya sendiri cuma Rp. 15.000,-. Ini pertama kalinya saya dan temen-temen kesini, sangat excited, terlebih begitu kita memasuki area desa, sungguh saya ga pernah lihat desa sebersih dan secantik ini. Ga ada sampah berserakan.

Namanya juga Desa adat, setiap penduduk yang saya temui sebagian besar mereka pakai baju adat kebaya bali dan di atas kepalanya ada besek sebagai tempat sesajen. Design rumahnyapun sangat ke Bali-balian, saya sempat masuk kesalah satu rumah penduduk, satu rumah induk yang terdiri dari kamar dan ruang tamu dalam satu atap, dapur satu atap sendiri, ruang tivi satu atap sendiri, dan Pura terletak di belakang rumah dengan ukuran kurang lebih 3 x 3 meter. Kalo di surabaya, mungkin nih per atapnya bisa jadi kamar kos-kosan :p.

                                                           Salah satu rumah penduduk

Keunikan lainnya, desa ini punya kesimetrisan yang tertata rapi antara 1 rumah dengan rumah lainnya, andaikata nih sawah, saya bisa bilang terasiringnya cantik bener. Jalan utama desa Penglipuran ini mengarah ke bagian utama desa yang berada di puncak paling tinggi, di puncak desa terbagi 2 jalan, ke kanan arah Pure dan ke kiri arah Hutan Bambu. Kebetulan saat itu sedang ada upacara penutupan bulan purnama, good moment, kami bisa lihat langsung prosesi upacara, uniknya lagi, mulai dari masak sampai menyiapkan makanan adalah tugas para lelaki. Wow!




                                                               Hutan Bambu

Ke Kintamani yuk...

Puas berkeliling desa Penglipuran, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Kintamani. Penelokan, sebuah tempat yang masih dalam lingkup kecamatan Kintamani, sekedar nongkrong di Penelokan, anda akan disajikan lukisan Tuhan, gunung dan danau Batur, awesome! Udara gunung yang sejuk dan semangkok bakso dengan kuah hangat, hum...perfect, membuat kami betah berlama-lama di Kintamani. Nama Penelokan sendiri dalam bahasa Bali artinya tempat untuk melihat-lihat dan Penelokan sendiri berada disebuah tikungan, seandainya tiap tikungan itu seindah Penelokan, nikung berkali-kalipun saya siap! #loh?

Sebetulnya kintamani punya banyak tempat wisata, mulai dari Gunung Batur, Danau Batur, Pura Batur dan Desa Terunyan. Sempat kepikiran berkunjung ke Terunyan, tapi dari hasil voting singkat kami ga punya nyali buat kesana. Eh kami atau saya? Entahlah, yang jelas saya nih orangnya parno-an, bayangin lihat mayat yang di taruh di bawah pohon, duh! Bisa melekan semalem suntuk.



Banyak bunga bunga – banyak  bunga bunga

Dari Kintamani kami melanjutkan perjalan ke Bedugul bali, sesuai gps, saat itu kami melewati jalan catur, Kubutambahan, Kabupaten Buleleng – Bali. Jalanannya cukup untuk 2 mobil dan kanan kiri jalan Catur kita akan banyak menjumpai pekarangan bunga kenikir, dipetak-petak seperti sawah gitu, cantiknyo...kita yang naluri perempuan langsung ngikut gaya Syahrini “banyak bunga bunga...banyak bunga bunga....”, "foto disini keren nih!", tiba-tiba ide narsis muncul.

Sayangnya sang driver kurang peka, dia terus melaju melewati banyak pekarangan bunga. Ga bisa tinggal diam nih kalo dia ga berhenti maka saya dan teman-teman yang lain bakal melewatkan tempat yang keren tanpa sebuah foto. "Dani!!! Stop!!!", teriak saya kenceng. Berhasil! mobil langsung berhenti dan semua langsung keluar mobil tanpa komando. hahaha. Naluri narsis tiba-tiba berkobar.

Swear! Bener-bener kebun bunga, kuning dimana-mana. Nemu tempat sebagus ini secara ga sengaja, rugi banget kalo ga diabadikan. Jadilah kami berfoto ria di pekarangan bunga entah milik siapa :D, yang jelas kami cuma numpak foto aja ya pak...ga sampai metik atau matahin batangnya :D. Ya...ini yang saya suka dari sebuah perjalanan, kadang ada aja hal tak terduga, entah menyenangkan atau tidak, yang jelas saya suka  dengan sebuah perjalanan. Rasa, pengalaman dan lelahnya itu ga bisa dibayar.


Sunset Bedugul dan sebuah penyesalan :(

Yeah...aneh memang, ke bedugul kok cari sunset? yang lain pada ngejar sunset di pantai, ini malah ke bedugul. Iya gapapa deh...biar greget #Lol. Mungkin ini tempat favorit kita, kalo ke Bali ya kesini. Karna si Mini lagi ada kerjakan ndandak dari surabaya, jadilah dia numpang colokin laptop di Resto bedugul dan sisanya pada merumput di bedugul (Baca:tiduran). Betah. 

Tempat Favorit berikutnya, Masjid Hidayah, Masjid besar ini letaknya di bukit seberang bedugul. Selain untuk sholat, pemandangan Bedugul dari halaman masjid bisa kita nikmati disini. Btw slesai dari sholat ada ibu-ibu jualan strawberry, sekotak gede dihargain cuma Rp. 10.000,- gileee murah banget, di surabaya atau malang sekotak kecil aja harganya Rp.15.000,- an. Gara-gara itu saya galau banget, pengen beli buat di surabaya tapi tar busuk lagi, kalo ga beli mumpung murah. galaukan? #dasarcewek.

Akhirnya kami beli 1 kotak besar dengan bonus 1 kotak kecil. Yang bikin menyesalnya lagi...tuh strawberry rasanya manis dan awet sampai besok (kebetulan besoknya baru kita makan). Ya...asli saya menyesal, kenapa penyesalan selalu datang di akhir? #nangisdipojokanKuta. 


                                                           Kira-kira lagi ngapain?
                                                                   Foto Kalender

Beach Walk – Biar kekinian

Setelah sholat magrib, kita tancap gas lagi ke daerah kute. Dengan tujuan memenuhi hajat perut yang kosong, kuliner di Nasi Pedas Bu Andika (Jl.Raya Kuta, Gg.Kubu, No.120C, Benoa, Badung, Kuta Sel., Bali) ga usah bingung mencari lokasi Bu Andika, karna letaknya pas diseberang Pabrik kata-kata Joger, buka 24 jam, udah kayak apotik kan? Ini langganan keluarga saya, rasa pedes nya itu ngangeni. Selain bebek betutu, ini juga recommendlah kalo untuk kuliner di Bali. Soal harga masih standart juga.

Next, ngemall di Beach walk - Kute, biar kekinian dan berbaur dengan bule-bule terkini. Di basemant, lagi kusyuk-kusyuknya antri parkir, eh tiba-tiba ada mobil yang nyelonong parkir ditempat yang udah kita incar, ya memang sih...ga da undang-undang yang mengatur tentang “Etika berparkir”, tapi... hey! Budayakan antri donk. Malulah...andaikata yang kamu serobot itu orang bule, di matanya pastilah : Ah...gini nih kelakuan orang Indonesia, males antri. Untungnya yang dia serobot itu kita, asli Indonesia yang ya...kalo diserobot cuma ngedumel ato ngajak tawuran. Hahaha.

Beach Walk ini letaknya pas di depan Pantai Kute, dengan design modern mall outdoor dan indoor. Lantai satu, di tengah mall ada  Resto dan Panggung kecil yang dikeliling oleh kolam. Lantai 2, di tengah mall juga, disediakan sebuah taman outdoor yang menghadap ke Pantai Kuta. Kami memilih menikmati duduk-duduk cantik di taman terbuka. 

Dilihat dari toko-toko yang kebanyakan jual "branded" mahal, bisa dipastikan ini Mall untuk segmen menengah ke atas. Overall, saya suka dari keseluruhan mall ini. Ga salah kalo banyak bule bertebaran disini. 




Hayati Lelah!!!

Puas nongkrong di beach walk, ga sadar sudah jam 22.00 Wita. Mulut sudah pada menguap, mata mulai 5 watt dan badan sudah mulai melemah. Sudah jelas kami cukup lelah untuk hari ini, eh bisa-bisanya si sany merajuk manja ke kami.

“yuk..dolen nang legian, mumpung nang bali”.

Arek gend*ng!!! Semua geleng-geleng kepala, ga sanggup meladeni kemauan dia. Berkali-kali dia merayu, berkali-kali pula kami menolak dengan alasan : sepertinya hari ini sudah cukup dan kami lelah. Dia kecewa berat, sebagai ganti penolakan kami, sebelum kehotel kami antar si sany ke pasar Badung lagi buat beli semangka, kebetulan dia lagi ngidam juga.

Di Pasar Badung, ga da satupun manusia di antara kita yang tergerak hatinya buat anterin si Sany masuk pasar. Lagi-lagi kami ribut lagi masalah ga penting soal siapa yang mau antar sany. Ribet ya? :P gini nih laki jaman sekarang, maunya dianterin T_T. 

Akhirnya...Mas yommy dengan rela (atau berat hati?) mau anterin sany masuk pasar. Gini donk ah dari tadi :D kan biar cepet kita ke hotel dan istirahat. Malam itu...Mas Yommy berjasa buat kita, karna dia kita ga perlu lama-lama di pasar dan cepet-cepet balik ke hotel bercengkrama dengan kasur.

-Berjalan tanpa batas-

Minggu, 09 Agustus 2015

Menengok Si Anak Rantau - Bali #day1



30 Mei 2015,
 
“Kawan...sejauh apapun kau Berjalan Tanpa Batas , Selamanya kita akan slalu dekat Tanpa Batas “

Ya... Saya rasa itu ungkapan yang paling tepat untuk Kami dan Sany. Teman saya Sany merantau ke Bali, sesuai dengan yang dia cita-citakan. Baru 3 minggu dia merantau, kami sudah (pura-pura) kangen berat ke dia.

Malam minggu jam 9 malam kami meninggalkan Surabaya. Di mobil sudah tersusun formasi tempat duduk, Dany selaku Driver Tak tergantikan dan saya disebelahnya. Fani dan Mini duduk ditengah, Mas yommy dan Tivi 14 Inch  duduk di Bangku Belakang :D, Eh cie cie Mas Yomy duduk ma tivi nih ye...#salahfokus.

Di Perjalanan, entah kenapa kami slalu terjebak  macet di Jalanan Hutan Baluran, Banyuwangi. Sialnya kali ini kami lagi ga bawa camilan dan bekal, Jadilah kami menikmati macet dengan romantis, dalam gelap bersama kalian #tsah. 04.30 Wita, kami sudah menginjak Pelabuhan Gilimanuk – Bali, seperti biasa kami harus melewati pemeriksaan identitas. Semua clear, kecuali Mas Yommy yang kebetulan KTP nya untuk Sewa Mobil. Mas yommy sudah menunjukkan identitas lainnya seperti SIM  A dan C, Npwp, tetep saja si Pak Petugas keukeh menahan kami.

“jadi bagaimana ini baiknya pak?”, tanya kami.
“ya sudah ikut saya ke POS ya”, kata Petugas.

Saya diluar Pos jagain mobil. Di Pos, Pak petugas menjabarkan beberapa pasal, Jujur teman-teman saya ga “Ngeh” tentang Pasal, tapi...bukankah dengan adanya Identitas lain bisa menggantikan KTP, bukankah dengan menunjukkan SIM, NPWP dan Bukti Penahanan KTP di Rental mobil, sudah menunjukkan bahwa itu valid ya? Ya...subuh itu, teman-teman saya dapat Siraman Rohani “Pasal”. Rasanya...Pak petugas mencari celah kami, menahan kami dan meminta “sesuatu” agar  urusan lancar, Sayangnya...kami pura-pura bodoh :D. Jadilah...20 menit di Pos Gilimanuk, kami di lepas begitu saja.

Here We go!!! Bali...

08.00 Wita, di Kos Sany, kamipun langsung bergelimpangan, kecuali dani, dia masih sempet ngerjain tugas kuliahnya (Daebak!). Setelah beresin badan dan barang, jam 11 kami  keluar dari kos Sany. Tujuan pertama kami ke Pantai Balangan – Bali.

Cantiknya Balangan

Ya...ini namanya bunuh diri (lagi) siang bolong begini, matahari di atas ubun-ubun, masih aja kita ke pantai. Pantai Balangan nih masih terbilang baru, atau saya yang baru tau? Dilihat dari jarangnya sampah yang berserakan dan pengunjung yang ga begitu banyak. Sebelum turun kepantainya, ada baiknya naik ke atas bukit dulu, karna disitu kita bakal disajikan pemandangan keren luar biasa, Laut yang biru, bukit-bukit dan samar-samar saya masih bisa melihat  Pesawat  yang Landing or Boarding di Bandara Ngurah Rai.

Untuk bule, nih pantai cocok banget buat berjemur, untuk saya yang asli jawa nih pantai cocok banget buat jemur baju T_T sama arti beda maksud. Balangan sendiri jadi tempat favorit buat para bule, selain tempatnya yang eksotis, Balangan punya ombak tinggi, panjang dan besar, cocok buat pecinta Surving.






Untuk lokasi Pantai Balangan ini, ga jauh-jauh banget dari Bandara Ngurah Rai, menurut Google Map 43 menit atau 17,5 km (Bila tidak macet dan tanpa lampu merah :D) . Karna lumayan jauh dari keramaian kota Bali, menurut saya cocoklah buat yang butuh tenang atau honeymoon, dan lagi disekitaran Pantai balangan sudah banyak villa atau hotel.

Kali ini saya lagi ga mood untuk basah-basahan dan berjemur, pertama karna saya bawa baju terbatas dan kedua karna kulit saya belum move on “hitamnya”.  Cukup duduk di pinggir Pantai menunggu air Laut  menyentuh kaki saya. Walau Pantai Balangan saat itu terlihat panas, tapi angin nya sejuk, dan air nya dingin loh, jadi betah juga duduk lama-lama di tepi pantai.

                
                                                    Kebetulan lagi ada shooting FTV


                                                               Jualan aqua nih?
 
Pantai Sejuta Umat

Next, kami menikmati sunset di Kute, berkali-kali ke Kute dengan orang yang berbeda dan dengan rasa yang sama, Kute tetaplah pantai #yaiyalah. Yang lain masih pengen basah-basahan, saya? Saya lagi ingin menikmati Kute dengan memilih duduk di pinggir pantai menjaga Tas dan menjaga Dani yang lagi tidur diatas pasir -_-”. 

Sunset itu selalu Indah, dimanapun tempatnya dan Kute ini unik memang, dengan pantainya yang panjang, ombak nya yang masih bersahabat, cocok untuk segala umur dan suasana, saya rasa Kute ini sangat melengkapi. All in one. Pantaslah dia menjadi Ikon Bali. 

                                                                  Langit Kute

Sany tipu-tipu kami

Sore menjadi malam, Kami memutuskan untuk segera cek in di Hotel Suranadi – Denpasar (Jl. Hayam Wuruk No. 61 – Denpasar – 0361 226702) , hotel ini cukup nyaman buat kami yang numpang tidur dan Pup aja. Dilengkapi Tivi 14 Inch dengan posisi menempel atap (Otomatis tiap nonton tivi, nih leher kudu di setting ke atas, lumayan pegel), Kipas Angin, Kasur yang pas untuk 3 orang dan teh manis di pagi hari. “Biar hari-harimu selalu manis”, mungkin itu motto hotel Suranadi.  

Karna perut kami mulai keroncongan semua, Sany mengajak kami jalan kaki mencari makan di Alun-alun Denpasar, oke...cukup asik juga rasanya jalan kaki di kota denpasar malam hari. Sampai didepan alun-alun Denpasar dan sama sekali tidak menemukan penjual makanan, ternyata di alun-alun Denpasar ada papan dengan tulisan : Dilarang berjualan disekitar area Alun-Alun. Oke! 

                                               Ngeksis didepan Air mancur Alun-Alun

“ Yo wes kita jalan ke pasar aja ya”, ajak sany. Oke...pasti tuh Pasar Malem yang biasa orang jual baju atau makanan gitu, batin kami saat itu.

Dan Taraaaa....

Kami memasuki wilayah pasar Malam Tradisional – Pasar Badung, yang cuma menjual sayuran, daging dan bahan pokok makanan. Argh!!! Brani-braninya tuh bocah tipu-tipu kami. Ga mau mubadzir begitu aja dengan jalan kaki yang cukup jauh, kamipun mengelilingi pasar Tradisional dan jalan lagi...duduk bentar...jalan lagi...tau-tau udah didepan hotel. Hahaha kampret. Kalo diliat dari google map, ada kali 7 kiloan kita jalan kaki #fiuh. 

                                                           Beli jajanan pasar
 
Akhirnya kitapun makan di warung depan hotel. Berakit-rakit kehulu bersenang-senang kemudian, berjalan kaki dahulu makan kemudian.

-Berjalan tanpa batas-




Sabtu, 13 Juni 2015

Perjalanan go-blog menuju House Of Sampoerna dan Bebek Sinjay Madura



Kamis , 14 mei 2015

“Travelling bisa dimana saja, termasuk kota sendiri”,

Harpitnas (Hari kecepit Nasional) telah tiba! Biasa kami habiskan waktu dengan bersantai dirumah (Baca: mbangkong). Hari itu, kami berencana explore kota kami sendiri, Surabaya. Mulai pagi, group di bbm sudah rame, saling membangunkan dan mengingatkan : JANGAN LUPA MANDI !!! karna biasanya “Mandi” itu hukumnya Sunnah di hari libur, di kerjakan dapat pahala, ga dikerjakan juga ga dosa. #loh?

Tujuan kami mengelilingi Bangunan bersejarah Surabaya menggunakan “heritage House Of Sampoerna”. Untuk jadwal keberangkatan bisa klik disini . Kami ambil jam paling pagi pukul 09.00, Sany dan Dani lebih dulu tiba di Tekape, sedangkan saya dan Irma, jam 8.30 masih ada berada di jalan Darmo.

“Mengejar Heritage”

ya...ternyata demi mengejar sebuah heritage, saya dan irma harus disiram cobaan, mungkin Allah menguji seberapa kuat iman kami dan seberapa pintar otak kami untuk sampai ke tempat tujuan. Berasa ambil kitab suci ke barat nih #salahfokus.

Cobaan pertama terjadi akibat ketidak fokusan otak saya (cobaan atau bawaan tuh?), dijalanan Darmo, si Sany telpon, minta kita segera sampai di tekape, mengingat mreka sudah pesankan tiket untuk kami berdua juga.

“mbel...waktumu cuma 10 menit buat sampai kesana”, Perintah si Irma. (Mbel itu maksudnya gembel, panggilan sayang kami sebagai teman).
“oke”, jawab saya Pede dan menarik gas matic lebih kenceng lagi.

Dan....setelah melewati rumah sakit darmo, entah mengapa ada mobil belok, sayapun ikut belok. Loh? Si irma teriak-teriak dari belakang, mengingatkan saya salah arah, saya kayak orang linglung.hahaha. Si irma ngomel-ngomel, saya tetep ngakak merasa tak bersalah. Akhirnya di lampu merah, kita oper tempat duduk, Irma di depan saya di belakang. Begitu lampu hijau nyala, si Irma ngebut-sengebut-ngebutnya.

Seperti maling dikejar polisi pagi hari, selip sana selip sini, gas terus...dia benar-benar fokus, tanpa memperhatikan manusia yang lagi teriak-teriak ketakutan dibelakangnya, saya. Sepertinya saya ada gejala jantung nih, tiap tikungan, tiap nyelip kendaraan, jantungnya saya bergerak dengan ritme yang cepat dan ga karuan. Tangan kiri saya fokus pegang Hape untuk liat “GPS”, sedangkan tangan kanan sedikit pegangan erat di sehelai kain jaketnya. 

Dan cobaan  telah siap menanti kami (Lagi)

Di jalan yang mengarah ke Tugu Pahlawan, ada tutup uditch (penutup selokan) yang lumayan menyembul kepermukaan jalan, posisinya sih  sudah minggir, tapi....si Irma nyetirnya lagi kesetanan sampai ga memperhatikan tuh tutup uditch. Alhasil...kita melewati tutup uditch seperti acrobat, mumbul se mumbul-mumbulnya!!!. Menjerit? Jelas. Kaget? Banget. Tetep ngebut? Tetap. Jadi...bisa dibayangkan betapa gila nya cara ngebut dia. Untungnya kami ga jatuh. Houre!!ga nyangka bakat main sirkus #salahfokus.

Saya kira kami bakal ontime, saya kira.....

Nyatanya kami nyasar gara-gara Ketidak-fokusan si Irma, ya..kami nyasar sampai kya-kya. Loh kan ada GPS? ya...saya sudah ingatkan si irma kalo kita salah jalan, tapi dia tetep keukeh sama daya instingnya yang (kurang) kuat. Well...kami pun berselisih pendapat, saling cakar dan jambak-jambakan. “malu bertanya sesat dijalan”, Pak becak yang tak jauh dari saya memberi arahan menuju jalan yang benar, ke Heritage.

Finally...sampai juga di HOS, bus merah HOS masih ada di tempat. Fiuh...saya dan Irma bernafas lega, masih ada kesempatan. Kamipun buru-buru parkirkan motor, melipat jaket dan....sebuah tepukan tangan mendarat di bahu saya.

“Mbel mbel...busnya.....”, kata irma sambil menunjuk ke arah bus.

Sedetik kemudian mulut kami ternganga melihat bus HOS pergi meninggalkan halaman HOS. Dalam beberapa detik kami masih terdiam ga percaya. Bus di depan mata telah hilang. Saling diam....masih diam...diam....saling pandang...dan tawa kami pecah kemudian. Entah, kami merasa ini lucu banget. Bus HOS yang kami bela-belain ngebut dengan segala cobaan dan ke go-blog-kan, ketemu di depan mata dan ditinggal melaju begitu saja di depan mata pula. Hidup ini memang perih ya!

Nasi sudah jadi bubur, kamipun tetap enjoy, masih bisa jalan-jalan di bangunan HOS. Tapi temen saya Sany, dikit-dikit telpon minta kita nyusul pake sepeda motor, hum. Ga rela banget sih, jauh dikit dari kita? #eeaaa.

                                                 Hanya bisa memandang karcis bus HOS

HOS ini dibangun pada tahun 1862, Yang sebelumnya adalah sebuah panti asuhan yang dikelola oleh Belanda saat itu, Lalu pada tahun 1932 bangunan tersebut dibeli oleh Liem Seeng Tee, seorang pendiri Sampoerna. Dan pada tahun 2003 pabrik rokok yang sangat berpengaruh ini, mendedikasikan bangunannya untuk wisata Surabaya, memberi warna tersendiri  untuk kota Pahlawan yang lebih banyak Mall dari pada tempat Wisata seperti ini.

DI Hos, kita bisa melihat proses pembuatan pelintingan rokok, sayangnya saya belum pernah liat karna itu hanya ada di hari kerja. Di dalam Bangunan kita akan menjumpai  Galery foto keluarga Sampoerna, galery produk, Mesin cetak kemasan, jenis-jenis cengkeh dan masih banyak lagi. Untuk info lebih jelasnya klik Disini. Bangunan HOS terbilang memiliki design yang klasik menurut saya, jadi sayang banget kalo ga foto-foto disini, untuk pre-wed  juga cocok.



                                                                     Ngojek dulu
                                                       Berbagai Design bungkus Rokok
                                                                   here
                                                           Mesin cetak jaman dulu
Sejam kami mengelilingi HOS, Sany dan Dani sudah tiba dari berkeliling ke PT. PN dan Tugu Pahlawan. Masih jam 11 siang saat itu, kami putar otak, enaknya jalan kemana lagi ya...Tercetuslah ide Makan bebek sinjay di Madura. Kurang kerjaan memang, makan bebek kok pake nyebrang pulau segala, tapi ya kapan lagi coba, mumpung libur.

Dari HOS kami menyebrang ke Madura menggunakan jembatan Suramadu, kali ini saya lagi pingin nyetir, sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi. Enak-enaknya nyetir, tetiba saya merasa kepala saya mau copot, ah!!! saya lupa, helm yang saya pakai kacanya sebelah kanannya lagi rusak, alhasil...kalau terkena hembusan angin yang kenceng, kepala saya seperti tertarik angin. Untunglah si Irma baik banget, sepanjang jalan kenangan kita slalu bergandeng tangan. Plak!!! hoi fokus!!!

                                                             Suramadu kala itu
Begitu setianya Si Irma megangin kaca helm saya sepanjang Melintasi Madura, sampai suatu saat dia mengeluh mulai capek, tapi dia tetep teman saya yang setia pegangin kaca helm saya.hahaha. Jasamu bakal terkenang sepanjang masa kok :P.

Bebek Sinjay Madura, nih bebek sudah terkenal mulai jaman kecil saya, dimasak menggunakan rempah, jadi kalo kita makan, bumbunya meresap banget ke daging, dagingnya yang empuk, ditambah sambal mangganya yang membuat Bebek Sinjay semakin Perfect. Saya pecinta Bebek Goreng, dan saya paling cinta sama Bebek Sinjay Madura ini. Di Surabaya ada 2 cabang Bebek sinjay, menurut saya rasanya tetap enak yang di Madura, entah kenapa? yang jelas saya lebih suka menyabrang Suramadu dulu untuk menikmati tuh Bebek. Berakit-rakit dahulu, Makan kemudian. Bukan bebek sinjay kalo ga rame, slalu rame dan slalu...saya kesulitan cari tempat duduk :D.

                                              
                                                             #sekali-kali-alay
                          Di pom bensin kita istirahat, ada tulisan begini. Yang tulen yang tulen
Perut kenyang, hati senang, otak tenang,ya...Seru-seruan dengan teman ga harus mahal, yang penting tergantung sudut pandang kita melihat momen indah itu. Perjalanan go-blog pun bisa jadi seru.

Dan saya slalu ingin-ingin-ingin berjalan tanpa batas bersama kalian....