Senin, 16 April 2018

Perjalanan yang ditentukan oleh cuaca dan ke(tidak)beruntungan - Lembongan

Pernahkah adek-adek, kakak-kakak, mas-mas, mbak-mbak semua merasakan suatu perjalanan ditentukan oleh cuaca? Yang moment cuacanya itu adaaaaa aja, walau sudah bertobat, eh masih aja ketemu yang namanya ombak/hujan/kejadian tdk terduga lainnya. Atau ke(tidak)beruntungan dalam suatu perjalanan? Kalo ada sini, boleh angkat tangannya tinggi-tinggi.


Ombak

Waktu lagi hamil raka 4 bulan, saya and the gank gembel melakukan perjalanan ke Nusa lembongan menggunakan Spead boat dari Sanur tanpa sarapan 4 sehat 5 sempurna (karna kesempurnaan itu hanya milik Allah Swt). Saya sengaja duduk dekat jendela sambil menikmati cipratan air laut yang asin rasanya dan angin laut yang segar-segar lengket diwajah. Ombak menuju Lembongan kali ini heboh, lebih kerasa guncangannya, seperti naik rollercoaster, naik lalu dihempaskan ke laut. Awalnya itu seru-seru aja, saya sampai ketawa-ketawa lepas, berikutnya....kepala saya mulai pusing, langsung saya liat ke arah jendela terus, berharap : jangan muntah jangan muntah. Speadboat menempel di bibir pantai Lembongan, semua rombongan turun berlahan-lahan, sampai saya sadari : lah suami saya mana??? tega amat istrinya lagi hamil main tinggal aja!

Belum tuntas mencari suami, Irma yang sedari tadi duduk disebelah saya cuma dieemmmm aja, tidak bersuara tapi bernafas, tidak bergerak tapi hidup.
“mbel...mbel...”, panggil saya ke irma. Dia tetap diam.
“your friend oke?”, tanya mbak bule yang melintas.
“i dont know”, saya ga yakin juga...bisa-bisanya nih perawan terdiam disaat yang ga tepat. Irma mabuk laut sodara-sodara! Hahaha, teman yang tersisa di kapal pun dengan sabar menunggu irma sampai pulih.

Warung Terkutuk
 
Akhirnya....kita menginjak lembongan dengan lelah letih lesu lemah limbung lala yeye. Saya temukan suami duduk di sebuah warung dengan muka pucat, dia mabuk laut juga. Diputuskan saat itu juga untuk sarapan diwarung dekat dermaga yang pas kita buka menunya pingin saat itu juga lari ke ATM karna ngrasa uang kurang, ahahah wasyem! Harga yang ga manusia bagi kaum gembel itu sungguh menciutkan dompet kami, akhirnya kita pesan : “mbak nasi gorengnya satu ya...bungkus!”.

Belum sejam menginjak Lembongan, Ombak yang meninggi memberi ucapan selamat datang, hingga terdampar di warung terkutuk bagi kaum gembel. Tak papa...kami masih semangat untuk lembongan.

***Selama di lembongan kami menginap di Bunda 7 Bungalow yang harganya miring namun design cottagenya alamakkkk bisa buat anda anda sekalian ga pingin cek out!

Selain rasa sayang kepada suami (maklum manten baru saat itu) ternyata ada rasa lain yang lebih mengusik kala itu : lapar! Dengan gotong royong kami makan nasi goreng yang harga selangit itu berenam, iya berenam! Lumayan ganjel-ganjel sebelum kita cari sarapan (yang kesiangan).



Kue di Yellow Bridge

Kami masih menuntaskan hasrat kenyangin perut sebelum lebih lanjut explore ke Nusa Ceningan, setelah makan tak lupa beli beberapa kue untuk bekal perjalanan (mencari kitab suci) di Nusa Ceningan nanti. 

Tapi namanya manusia narsis yang tak luput dari camera, kami sempatkan kala itu foto-foto beberapa ribu gaya. Sangking asyiknya foto hingga tak sengaja Irma meletakkan perbekalan kue di Jembatan iconic tersebut. Meletakkan namun lupa mengambil kembali. FATAL! Karna setelahnya kami baru sadar kue itu tertinggal setelah kami merasa lapar di Nusa Ceningan. HAHAHA.

Adegan diulang 3 kali karna....

Malam di Lembongan begitu syahdu, hujan rintik-rintik menghentikan niat kami mengelilingi Lembongan ketika Malam, karna pesan mama jangan hujan-hujan nanti sakit, uh...

“Rek tibake nasi goreng seng mbiyen mandek nang ngarep ga onok (gaes ternyata nasi goreng yang dulu berhenti didepan tidak ada)”, kata Sani.
“trus kene mangan opo san? (terus kita makan apa san?)”.
“piye yo...(gimana ya)”, Sani jadi bingung sendiri.
Karna hujan yang rintik-rintik, kita coba cari makan yang dekat-dekat dengan harga yang semoga saja terjangkau.

Begitu keluar parkiran cottage, kita ke Motor sewaan masing-masing lalu hujan yang tadinya rintik saja berubah menjadi rintik-rintik-rintik-rintik kuadrat : deres! Semua lari masuk cottage, 5 menit kemudian hujan deras kembali mereda. Dengan cool kami keluar parkiran lagi mendekat ke motor sewaan lagi lalu...hujan deras kembali datang, kami berlari lari ke cottage dengan ketawa. Kami masih sabar menunggu hujan deras menurunkan levelnya. 

Oke sip hujan menurunkan levelnya.

Kami bergegas lagi ke parkiran melakukan adegan yang sama seperti sebelumnya lalu.....yap!hujan deras kembali turun. Kami benar-benar ngakak, 3 kali kami melakukan adegan yang sama, sepertinya hujan sedang mangajak kami bermain-main. Hujan..lupakah kamu? Mama melarang.

Sepertinya si Hujan iba dengan muka kelaparan kami, iba atau eneg? Dia menurunkan levelnya, kami berlari kencang ke parkiran, bergegas meng-gas motor sewaan, wusss..... lalu berhenti di Rumah Makan terdekat.

Selamat! Kami telah melewati rintangan dari si Hujan. Makan Malam hari itu begitu nikmat, dari makan malam kami cerita panjang lebar sampai pegawai Rumah Makan ikut nimbrung dengar kami bercerita atau kami yang lebih sering dengar dia curhat, hahaha, tapi hujan rasanya masih ingin bersama kami, dia tetep menurunkan air nya dengan deras, seakan akan membuat kami mau tak mau duduk santai di rumah makan sambil ngobrol dengan orang lokal.

Lampu Mati

Ya...Lampu mati ketika malam sudah larut, aneh rasanya tidur di tempat baru dengan kondisi gelap.

Island Hoping yang tidak diharapkan




Mangrove

Menyadari kondisi alam Lembongan yang agak extrim, saya yang kala itu sedang hamil 4 bulan tidak ada keinginan untuk Snorkling, masih trauma dengan ombak yang tinggi. Sani dengan baik hati bersedia menemani saya untuk keliling Nusa Lembongan saja.

Tapi entah ada setan yang nyelip diantara kami atau teman-teman yang berubah jadi setan, tiba-tiba saja kami berenam sudah ada di perahu kecil, yang kalau ada 1 orang aja joget perahu oleng dan kita jatuh. Ya Kami ambil paket Island Hoping menjelajah mangrove dan Snorkling. Karna masih pagi, lalulintas di mangrove masih sepi, cuma ada perahu kami, jadi perahu kecil ini bebas mau belok kanan kiri oke.

Hingga kami melewati suatu jalur sungai yang airnya makin lama makin dangkal. Huahahahaha, perahu kecil kami tidak bisa bergerak, dipaksa maju juga air makin dangkal, jadi harus mundur. Sang operator Perahu kecil begitu cekatan mencoba memundurkan perahu yang berkali-kali dia coba tidak berhasil. Suami saya yang baik (ehem) langsung nyemplung gitu aja ke sungai dan dia dorong nih perahu sampai ke air yang lebih dalam. Lalu dengan tanpa dosa dia mencoba Naik perahu kecil yang langsung oleng, “Daniiiiiiii”, Semua histeris! Untungnya kita semua ga jadi nyemplung, selamet...selamet...

Mabok Jamaah

Island Hopping pertama berada di titik Patung Budha di Bawah Laut, namun kala itu ombak bergerak kencang, saya putuskan ga ikut snorkling, feeling saya sudah mau mabuk saja rasanya. Di Kapal hanya ada saya dan Sang Operator, kami saling diam, tidak bertatap muka dan tidak sempat bertukar nomor WA. Saya dengan dunia saya sendiri, mengsusgesti : jangan muntah, jangan muntah!

Belum ada 10 menit semua sudah naik, lah cepet amat? Semua bilang ombaknya terlalu heboh, dan beberapa teman sudah merasakan pusing.

Oke kita lanjut di titik Island Hopping kedua, yang berada di dekat Nusa Ceningan. Kali ini Ombak lebih heboh dari pada sebelumnya, hanya beberapa orang yang masih kuat yang brani nyemplung. Itupun ga sampai 10 menit juga. Disini satu persatu kami mulai muntah jamaah, gara-gara liat mreka muntah, saya jadi latah, sugesti yang saya bangun sejak tadi mendadak runtuh, saya ikut muntah, HUEKKK! 

Tak lama suami buru-buru naik ke kapal dengan muka pucat, lalu HUEKKK!
loh ikannya makan muntahanku!”, seru suami ke kita, kok kayaknya bangga gitu muntahannya di makan ikan?
HUEKKK! suami muntah lagi dan kliatan banget dibuat-buat, kali ini muntahannya murni untuk memancing para ikan berkumpul dan makan bersama muntahan dia. Iuhhh...

Semua lemas kecuali Yomy yang masih bertahan.

kita lanjut ke spot 3 ya”, kata sang operator yang cuek bebek dengan kondisi penumpangnya. Tapi tawaran itu kami tolak dengan halus karna kondisi kami yang tidak memungkinkan. Rugi 1 tempat tak papalah...dari pada lebih sakit. 

Mabok Jamaah...oh Jamaah...

Breakfast yang Hangus

Mendekati jam 10 pagi, setelah speadboat menempel tanah, kami bergegas kembali ke Cottage untuk mengejar sarapan pagi yang disediakan oleh pihak cottage. Hanya telat 11 menit kami datang, breakfast hangus, kami memelas, masak iya...beberapa menit saja tidak boleh, Dan tetap tidak dikasih breakfast, makin gembel saja kita ini...


Jadi pernahkah kalian punya pengalaman macam kami?

Rabu, 18 Mei 2016

Gili Trawangan - Explorer Lombok (4)

Senin, 7 Desember 2015

***Sssttt...karna ke (sok) sibukan saya, update blognya molor banget. Tak apalah...lebih baik terlambat dari pada tak menulis sama sekali :D #tetepbeladiri.
--------

We Love Monday! (tumbenkan?)


Samar-samar dari balik pintu terdengar bunyi gedoran dan teriakan, “Woi..bangun!!! ayo keliling!,” teriak Mas eko dari balik pintu. Saya dengan mata masih berat mencoba mencari handphone untuk melihat jam, ah...masih juga jam 4 pagi, entaran deh.

Dan kejadian itu terulang hampir setiap 10-20 menitan hingga adzan subuh berkumandang pukul 5 pagi waktu Lombok. Baru deh saya bangun beresin muka seadanya dan sholat. Begitu saya buka pintu, heran juga, kenapa masih sepi, yang lain mana? Kenapa Cuma ada mas eko yang duduk sendiri.

“Yang lain mana mas?”, tanya saya. Mas eko Cuma jawab pakai isyarat tubuh menggelengkan kepala yang mungkin artinya : entahlah. Well, ternyata yang lain sama seperti saya, masih berat untuk bangun pagi, dan mas eko, satu-satunya manusia yang bersemangat bangun pagi untuk melihat sunrise dan mengelilingi Gili Trawangan.

Biasanya “I hate Mondey” tapi untuk hari ini kami punya slogan “I Love Monday”, ya sayangnya hanya hari ini saja. Kami berenam mengejar sunrise di dermaga, dengan background gunung Agung Bali, laut dan kapal yang bersandar di dermaga, pagi itu terasa syahdu sampai saya sadari,Gili trawangan pukul setengah 6 masih sangat sepi. Niat kami mengelilingi Gili trawangan menggunakan sepeda sudah berapi-api, sangking semangatnya saya sampai lupa pake pensil alis, oh...mau ditaruh mana muka ini?

Btw kami sempat beli sarapan didekat dermaga Gili Trawangan, kami bungkus dan dimakan nanti setelah bersepeda, perporsi Cuma Rp. 15.000,-. Seorang ibu-ibu dengan besek besar, saya lupa nama makanannya, seperti ayam kari dikasih mie kuning dan lontong, perpaduan aneh, tapi sungguh saya suka banget, rasa pedes dan rempahnya pas! Sebagai pecinta kuliner saya menyesal melupakan nama makanan itu. (alibi buat balik ke Gili trawangan lagi nih :D)

Luas gili trawangan hanya 2.954 hektar, jadi memutari gili trawangan cukup waktu sejam bila menggunakan sepeda (tanpa macet dan lampu merah. emang ada?). Sebetulnya disini juga ada cidomo yang siap mengantar setiap pengunjung mengelilingi Gili trawangan, namun kami pilih bersepeda, selain hemat, lumayan bakar lemak, syukur-syukur turun 3 kilo. Aamiin. Oh ya, dengan bersepeda kita bisa berhenti dimana saja, mengabadikan setiap spot yang bagus. Overall, saya jatuh cinta dengan Gili Trawangan!

Bangun tidur - muka bantal

Siluet
Romantic siluet
Big Siluet (Gemuk :P)
 
Pukul 9, kami beberes badan dan barang. Tak lupa saya haturkan terimakasih banyak ke Baleku homestay, tempat kami bernaung, berteduh dan memiliki tetangga bule, dimana setiap mereka “beradegan” kadang lupa tutup pintu, akibatnya kami bebas melihat “adegan tanpa sensor dan streaming”. Hore!!! Loh?.

Pukul 10, Dermaga  Gili trawangan belum begitu ramai, kami duduk menunggu kapal penuh. Deg-degan juga karna kami mengejar waktu menuju ke Bandara, dan kapal hanya akan berangkat bila penuh sekitar 30 orang. Alhamdulillah, hampir sejam menunggu, akhirnya kapal berangkat juga.

Di Pelabuhan Bangsal, kami sudah sewa mobil yang mengantar kami ke Bandara, harga yang di patok lumayan juga, Rp.300.000,- untuk sekali jalan, Pak Ojik 087865252852.



Dibalik foto yang keren.....
 
Terdapat fotografer yang luar biasa :D




dekat Dermaga




Flying Yoga

Ada Aqua?
Sepeda

Telephon

We...and the backbone
Bakar Lemak!
 

Jangan Lupa Beli Oleh-oleh (lagi!)

Sebelum ke Bandara,ada baiknya mampir ke Excotic Lombok (Jl. Raya Senggigi no. 88 A, Batu layar, Lombok Barat) untuk membeli oleh-oleh (lagi) disini jual kaos dengan segala hal berbau lombok, dengan harga mulai dari Rp.25.000,-. Menurut saya design kaosnya keren, sangking kerennya saya terlalu galau buat milih kaos, maklum masih labil, pengennya mborong semua.

Ga lengkap juga kalo cuma beli kaos, Pak Ojik juga mampirin kita ke toko oleh-oleh makanan Khas lombok, Toko Lestari(jl. Adi Sucipto Tinggar –Ampenan). Lucunya disini kami benar-benar dikejar waktu, jadi belanjanya chaos gitu. Begitu sampai dikasir saya, irma dan sany baru ingat kalo kami belum gajian, tak ada uang untuk membayar, tak ada harta yang bisa ditinggal. Ah...chaos again!  Dan teman-teman yang sudah gajian terpaksa buka dompet buat bayarin. Hore!!!

****
Ssttt...Diruang tunggu bandara, sebuah sms masuk ke handphone saya, dari Mandiri yang mengabarkan sejumlah rupiah masuk ke rekening saya (baca:gaji yang tertunda) tau apa yang saya ucapkan saat itu ke teman-teman?

“Untung digaji saiki, lak digaji ket wingi isok entek duitku!”, yang lain manggut-manggut memaklumi. Setelahnya saya baru sadar, lah tadikan beli oleh-olehnya ngutang temen! #tepokjidat.

***
Berikut pengeluaran kami di hari keempat :
1.    Kapal dari Gili Trawangan ke Bangsal : Rp. 117.000,- untuk 6 orang
2.    Sewa mobil + driver dari Bangsal ke Bandara : Rp. 300.000
3.    Makan Pagi : Rp. 15.000/per orang

Jumat, 04 Maret 2016

Perpisahan dan Perjalanan tanpa Pakde - Explorer Lombok (3)



Minggu, 6 Desember 2015
 
Hari Ketiga kami di Pulau Lombok dengan formasi lengkap dari pada hari sebelumnya. Mau tidak mau kami harus angkat kaki dari rumah pakde, bukan karna di usir, bukan karna kami sudah tak betah, tapi kami harus melanjutkan perjalan ke destinasi selanjutnya.

Pagi-pagi sekali seperti biasa sang Ibu pemilik rumah sudah bangun terlebih dahulu, menyiapkan apa saja yang bisa disiapkan. Dan Kami sebagai tamu yang sadar dengan hidup  menumpang, beranjak segera bangun. Entah mengobrol, membantu ala kadarnya atau menunaikan hajat pagi hari (Baca:pup), dan kebetulan saya melakukan ketiga hal itu.

Tadinya saya berniat bantu-bantu Bude, ternyata Bude juga belum ada kegiatan, jadinya beliau ajak saya ngobrol di teras, tak lama Pakde ikut nimbrung. Obrolan ringan mengalir begitu saja dan obrolan semakin membuat saya excited ketika Pakde bercerita tentang perjalanan dinasnya sebagai Karyawan Dinas Pengairan yang sudah melalang buana mengelilingi Nusantara.  Sambil menunjukan galery foto di handphonenya beliau bercerita setiap kejadian di foto, yang makin membuat saya “iri” dengan perjalanan tanpa batasnya.

“Aduh pa...aq kekamar mandi dulu ya”, kata bude sambil berlari. Oh...si Bude lagi kena hajat pagi  nih, saya dan pakde meneruskan obrolan lagi, sampai dimenit ke 5 setelah kepergian bude yang ijin kekamar mandi, saya merasakan gejala kontraksi diperut, mencoba mencerna apakah ini lapar atau hajat pagi? 5 menit kemudian saya menemukan jawabannya : Hajat Pagi! Harus segera ditunaikan!

“Pakde saya ijin kekamar mandi dulu ya?”, rupanya si Hajat sudah di ujung tanduk. Tanpa menunggu jawaban Pakde saya langsung lari kekamar mandi. Sopan atau tidaknya saya meninggalkan obrolan dengan pakde, ah ya sudahlah...semua juga tau hajat ini tak bisa diberi toleransi barang semenitpun.

Saatnya packing dan saya mulai sweaping disetiap inci kamar yang saya tinggali, mengabsen setiap barang agar tidak ada yang tertinggal. Kami semua telah siap dengan tas masing-masing, siapapun tak suka dengan perpisahan, walau baru 2 hari kami mengenal keluarga pakde tapi kami bisa merasakan hangatnya keluarga Pakde. Apalah yang sanggup kami balas, duitpun terbatas, harta bendapun tak dibawa, sebuah doa yang tulus dan ucapan terimakasih buat Keluarga Pakde yang kami hatarkan. Tanpa dateng ke kantor sipil atau sebuah pengakuan, kami menganggap Keluarga Pakde sudah menjadi keluarga kami sendiri, entah dengan mereka? #lol.

Happy Family

Mutiara tersembunyi di Taman Narmada

Sebelum kami melanjutkan perjalan ke Trio Gili, Pakde mengajak kami mampir ke Taman Narmada, Lombok barat. Dari cerita Pakde, taman Narmada ini miniatur dari kerajaan mataram atau tempat peristirahatan para raja. Tampak sebuah Bale utama yang terbuat dari kayu, menghadap ke arah kolam pemandian para permaisuri. Lalu tercetuslah sebuah pertanyan :

“Pakde, masak iya permaisuri mandi, rajanya ngeliatin dari situ?”, tanya saya penasaran.
“iya donk”,jawabnya tegas. Oh...oke! #telanludah, mengingat kolam pemandian itu terbuka, siapa saja bisa bebas melihat.

Taman Narmada sendiri telah ditetapkan sebagai komplek bangunan cagar budaya. Banyak cerita dan mitos yang beredar, seperti bila kita mandi, meminum atau hanya membasuh muka saja di salah satu kolam yang di sebut Balai Perirtaan, dipercaya akan awet muda.

Di Lombok, akan sering kita jumpai air mineral dalam kemasan dengan merk “Narmada”,dan rasa airnya pun segar alami karna langsung diambil dari sumber mata air di Gunung Rinjani. Nama Narmada sendiri diambil dari Narmadanadi, anak sungai Gangga yang suci di India,yang artinya juga Sumber mata air.





 

Arah pintu keluar Taman Narmada, kami menjumpai banyak pedagang  oleh-oleh,termasuk penjual mutiara. Pakde mereferensikan tempat ini, itu artinya harga miring dan kualitasnya bagus. Dan kami percaya itu. Disini menyediakan mutiara tawar dan laut, kalo mutiara tawar sudah pasti harganya berkisar mulai Rp. 20.000,-Rp.200.000, lebih murah dari pada Mutiara laut. Pergramnya sendiri untuk mutiara laut berkisar Rp. 290.000,-, untuk memastikan mutiara laut itu asli atau tidak, coba gosokkan digigi anda, bila terasa seperti ada butiran pasir itu artinya asli.

Dan ternyata membeli oleh-oleh saja, itu cukup menguras keuangan kami bahkan melebihi budget itinerary kami. Memang mudah menghabiskan uang dalamsekejap ;(




Hutan Monyet – Pusuk



Untuk menuju Pelabuhan Bangsal (TrioGili), terdapat dua pilihan, melewati pesisir pantai Sengigi atau melewati Hutan Monyet Pusuk yang berada dikawasan Hutan Rinjani.

Melewati Hutan Monyet pusuk, ratusan monyet akan menyambut kedatangan siapa saja di pinggir jalan, dengan berbagai kegiatan mereka, seperti mencari kutu, hanya melihat kendaraan lalu lalang, dan bergelantung manja di pohon. Kita? Sempetin turun dan foto deh, karna si Monyet ga segan buat mendekat apalagi pedekate.

Sepanjang jalan yang berkelok-kelok mengingat saya, ini seperti di kota Batu - Jawa Timur yang mau ke arah kediri. Rindang, berkelok dan suka buat mual.



Hey Monkey!


Trio Gili – Menjadi Minoritas

Masuk gerbang Pelabuhan bangsal, sesuai peraturan yang berlaku, kendaraan harus berhenti di portal dan dilanjutkan dengan menaiki Dokar atau Cidomo  menuju Bangsal. Lama tidak naik Cidomo membuat saya sedikit takut, bagaimana tidak, menurut saya kudanya kecil, tak imbang dengan kami yang bila di timbang bersama mungkin mencapai berat 350-400kg.

Benar saja, begitu kami naik satu persatu kereta menjadi tak imbang, lebih dominan anjlok kebelakang. Dan dalam diam saya berdoa, semoga tuh kuda menjadi sosok yang lebih kuat dan tangguh, tidak sampai kakinya terangkat karna bobot kami dan ditambah bobot pak kusir yang sedang bekerja. Aamiin.

Pelabuhan Bangsal tampak ramai kala itu, saya langsung beli tiket penyebrangan yang ekonomi untuk kami berenam dengan tujuan Gili Trawangan, kebetulan kami dapat karcis warna merah saat itu. Tak butuh waktu lama, petugas memanggil seluruh penumpang yang membawa karcis warna merah untuk segera menaiki kapal.

Bangsal - Untung ga da KPI,bisa di sensor kamu dek

Hey Gili Trawangan!
 

Kapal menyentuh peraduan, begitu turun dari kapal saya kagum dengan airnya yang bening banget, padahal disitu tempat bersandarnya kapal. Hal pertama kami  taruh barang dulu di Baleku Homestay yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan Gili trawangan, sekitar 5 menit jalan kaki. Dengan harga Rp. 125.000,- perkamar untuk 2 orang, kami dapat fasilitas kamar dan AC. Menjadi minoritas pertama kami sadari setelah kami melihat tetangga kanan kiri yang ternyata bule.

Sudah memasuki waktu makan siang, sebelum gemeter dan pingsan, segera kami cari warung terdekat yang murah! Karna kalo sudah masuk Gili trawangan, harga bisa naik 2 sampai 3 kali lipat. Benar saja, warung yang kami datangi sudah pasang harga terendah Rp. 20.000,-. Alasan hematlah yang membuat kami berani menawar harga, jadilah Rp. 15.000,- perporsi, lumayanlah.

Diracuni teman sendiri

Banyak hal yang bisa dilakukan di Gili Trawangan, dari banyak opsi kami pilih Snorkling dulu. Sayangnya Snorkling for publicnya hanya ada di jam 10 pagi dan 13.00 siang, sialnya saat itu sudah pukul14.00 waktu lombok. Tak ada pilihan, kecuali Snorkling for Private, harga sedikit mahal, tapi bukan kita namanya kalo ga nawar.hahaha. Hidup Gembelers!


Prepare
 

Setelah semua alat sudah siap, perahu siap mengantarkan kami  ke spot-spot snorkling di trio gili. Masih di perairan Gili trawangan, sang Guide mengajak kami berenang menjauh dari kapal melihat terumbu karang yang beragam, kurang lebih kedalam saat itu 8-10 meter, beruntung kami bertemu dengan si penyu yang berenang bebas tanpa pasangan, jadi kamipun tak jauh beda dengan si penyu, sama-sama “sendiri” :D.

Spot selanjutnya di Gili Meno, dari kejauhan gili meno tampak sepi, sepertinya lebih cocok untuk honeymoon atau menyepi meratapi nasib. Spot Snorkling di gili meno tidak terlalu dalam, berkisar 3-4 meteran, sayangnya ombak di Gili Meno lumayan besar, alhasil saya ga sengaja menelan air laut berkali-kali yang lama kelamaan membuat dada saya sesak. Di Spot ini saya mengibarkan bendera putih, sang guide langsung menyeret saya untuk merapat ke perahu.

Spot terakhir yaitu Gili Air, tampak lebih ramai daripada Gili Meno, karna dada saya masih terasa sesak, saya tidak memaksakan diri buat nyemplung, cukup melihat dari kapal, untungnya bening banget, jadi masih bisa lihat terumbu karang dan ikan yang beragam.



Yang lain pada meeting, dia berenang sendiri


Jatah roti kita, dihabiskan si ikan


Bening
Guide
 

Overall, bila di nilai 1-10, menurut saya pemandangan bawah laut trio gili nilai 9, artinya bagus, bagus banget, bagus banget sekali.

Ditengah-tengah menikmati indahnya trio Gili, saya dikejutkan dengan sebuah pengakuan dari sany.
“kamu gapapa ta?”, tanya sany.
“gapapa san, Cuma ga tau sesek aja, ga sengaja nelen air laut dari tadi, mana tadi ombaknya gede”.
“oh...yo wes syukur kalo gapapa, btw, aq mau ngomong, tapi kamu jangan marah ya?”.
“uhm...iya apa?”, perasaan sudah mulai ga enak.
“tadi di Gili Meno aq sempet pipis, habis pipis aku baru sadar kamu dibelakangku”.
“Hah??? Sumpah? Oh Kampret! Mayak! Jang***!*****!*****!”, Hati wanita mana yang sanggup terima kenyataan pahit dari teman sendiri? Saya bingung menyikapi kejengkelan saat itu, eh orang seperahu pada ngakak semua, antara ngakak bahagia dan kasian. #apes #Diracun #Teman #sendiri.

Sunset Gili Trawangan
 Pemandangan unik di Gili Trawangan,si Kuda yang lagi dimandiin


Pasar Malam – Yang harganya ga Indonesia banget!

Kalo di Gilli Trawangan, sempetin buat berkunjung di Pasar Malamnya ya, disini banyak penjual makanan yang menyediakan berbagai indonesian food, mulai dari seafood di bakar, nasi campur, sate, dan nasi bebek. Lalu apa yang special? Toh semua makanan itu bisa kita dapetin di jawa. Yang special adalah : sekali lagi kami menjadi minoritas di Negara sendiri, karna mayoritas bule,dan sudah pasti harga makananpun sudah dipatok diatas Rp. 50.000,-.

Mas Yomy, selaku orang paling tinggi di antara kami, mencoba blusukan mencari harga termurah. Lucunya, dia dikira bule malaysia dan dikasih harga Rp. 45.000,- perporsi untuk nasi campur. Kaget! Karna terlalu mahal kantong kita, dia coba tawar lagi dengan bahasa indonesia di campur jawa, barulah si penjual “ngeh” kalo dia orang Indonesia asli, jadilah dapat harga Rp. 15.000,-perporsi nasi campur. Hore!!!




Ga da salahnya menikmati Gili trawangan dimalam hari dengan bersepeda, lumayan bakar lemak. Alhasil, baru juga jam 9 malam, tapi mata saya bener-bener berat, sangking ngantuknya, mundurin sepeda dari parkiran aja ga fokus dan sepeda kanan kiri saya pada jatuh kesenggol badan saya, padahal nih badan ga gede-gede amat.

Cobain Es Krim Gili Gelato. Wajib!



Btw, Terimakasih gili....malammu indah tanpa batas.

Berikut pengeluaran kami selama di Gili :
1. Cidomo : Rp.60.000,-
2. Kapal Ekonomi dari pelabuhan bangsal - Gili Trawangan : Rp.117.000 (Untuk 6 Orang)
3. Snorkling For private : Rp.800.000 (satu kapal max. 10 orang,inc. peralatan Snorkling)
4. Sewa sepeda 24 jam : Rp.35.000/Sepeda